5 Kasus Hukum Janggal Di Indonesia, yang Terasa Aneh dan Tak Setimpal

Hukuman yang Terasa Berat Sebelah
Hukuman di Indonesia yang Terasa Berat Sebelah

Nasionalis.ID – Hukum adalah peraturan yang berupa norma dan sanksi yang telah dibuat dan disepakati bersama. Kamu sendiri tentunya sudah tau tentang hal itu dan kamu juga pasti bisa membayangkan, bagaimana jika suatu daerah tidak memberlakukan hukum? Tentu daerah tersebut akan kacau balau, amburadul dan tidak karuan. Untuk itulah diperlukan adanya tatanan hukum, agar dapat membatasi tindakan-tindakan negatif yang mungkin dilakukan.

Jadi tujuan hukum sudah jelas untuk mengatur tingkah laku manusia, menjaga ketertiban, keadilan, mencegah terjadinya kekacauan, dan sebagainya. Bagi siapapun yang melakukan tindakan melanggar hukum/aturan, jelas orang tersebut pantas mendapat hukuman/sanksi yang sesuai dan setimpal. Dengan harapan memberikan efek jera, agar orang tersebut tidak mengulangi lagi perbuatannya ataupun agar orang lain tidak meniru perbuatan itu.

Tapi bagaimana jika hukum itu sendiri malah menimbulkan kekacauan dan kehebohan? Bagaimana bisa? Saya rasa hal itu memang sulit dipercaya, katakan saja hukum tersebut telah sasaran atau tidak sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan, sehingga membuat hukum tersebut menjadi aneh. Seperti kasus hukum yang terasa aneh dan juga janggal, yang terjadi di Indonesia berikut ini.

1. Dipenjara Karena Jualan Benih Jagung

Nasionalis.ID
Nasionalis.ID

Kasus ini melanda 2 pria sederhana yaitu Tukirin dan Kuncoro dari Dusun Besuk, Kediri, JaTim. Mereka adalah 2 orang petani penangkar benih yang mencoba peruntungannya dengan menjual benih jagung hibrida. Namun sayang, usaha yang tak ada unsur jahat tersebut malah membuat mereka berurusan dengan hukum.

Kuncoro terjerat pasal 60 dan 61 UU 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, dan dijebloskan ke penjara bulan Januari 2010, sedangkan Tukirin menjalani proses percobaan. Mereka dianggap bersalah karena benih serta hasil panen mereka tidak diuji di laboratorium terlebih dahulu, dan mereka tidak memiliki lisensi seperti merek BISI.

Padahal untuk melakukan test laboratorium memerlukan biaya yang tidak sedikit. Hal ini mudah saja bagi perusahaan atau orang yang banyak uang, tapi bagi para petani tentu saja hal ini yang memberatkan. Seperti yang di ungkapkan oleh Aditiajaya dari Tim Advokasi FIELD, “Petani mempunyai benih jagung sendiri di setiap daerah, tetapi gara-gara UU ini petani harus memperoleh izin. Izin ini kan hanya bisa dipenuhi perusahaan yang punya uang,” ujarnya.


2. Dipenjara Karena Merakit TV

Nasionalis.ID
Nasionalis.ID

Seorang pria bernama Mumahad Kusrin dari Desa Jatikuwung, Karanganyar, Jawa Tengah, harus berurusan dengan pihak berhajib karena kejeniusan dan keahliannya dalam bidang elektronik. Dia adalah seorang pria lulusan SD yang sering merakit TV berukuran 14 serta 17 inchi dari monitor komputer yang tidak terpakai di bengkelnya.

Kreatifitas dimilikinya tersebut, membuat MK terjerat pasal 120 ayat 1 UU Republik Indonesia nomor 3 tahun 2014 tentang perindustrian dan dijatuhi hukuman 6 bulan penjara dengan masa percobaan 1 tahun serta denda sebesar Rp 2,5 juta. Dia dianggap melanggar pasal tersebut, karena semua TV yang dirakitnya tidak memiliki izin resmi.

Namun sebelum proses perizinan turun, dirinya justru lebih dahulu ditangkap oleh pihak kepolisian beserta ratusan televisi yang sudah dirakit. Ratusan TV yang telah ia rakit dari tahun 2015 tersebut dimusnahkan dengan cara dibakar pada 2 tempat yang berbeda, yaitu di Kantor Kejari Karanganyar dan Tempat Pembuangan Akhir Sukosari Jumantono.


3. Dipenjara Karena Menebang Pohon Sendiri

Nasionalis.ID
Nasionalis.ID

Nenek Asyani namanya, seorang perempuan tua dan renta dari Situbondo, Jawa Timur yang dijatuhi vonis 1 tahun penjara dengan masa percobaan 1 tahun 3 bulan dan denda Rp 500 juta subsider 1 hari hukuman percobaan. Karena dianggap melanggar Pasal 12 juncto Pasal 83 Undang-Undang (UU) Tahun 2013 tentang Illegal Logging.

Tak pernah terlintas dibenak Nenek Asyani, karena tujuannya untuk membuat ranjang tempat tidur, malah membawanya ke meja hijau. Ia dituduh menebang kayu milik Perhutani di petak 43, ketika petugas Perhutani melakukan patroli dan menemukan dua tunggak bekas pencurian pohon.

Padahal Nenek Asyani menebang pohon Jati di tanah miliknya sendiri yang diwariskan oleh almarhum suaminya. Asep Warlan Yusuf, pakar hukum tata negara Universitas Parahyangan Bandung mengatakan “Ini kan dugaan pencurian 7 batang kayu, apalagi terdakwa (nenek Asyani) memiliki bukti kepemilikan tanah dan ini bukan tuduhan pengambilan lahan. Khawatirnya ada kriminalisasi, yang semula bukan kejahatan dijadikan kejahatan,” ujarnya seperti yang ditulis oleh SindoNews.com.

Kalaupun ini merupakan tindakan pencurian, tidaklah pantas Nenek Asyani dijerat dengan UU tentang Ilegal Logging, karena yang ia lakukan bukanlah pencurian besar-besaran dan terorganisasi yang bisa merugikan negera secar besar. Kalau Nenek Asyani yang menebang pohonnya sendiri saja sampai dihukum 1 Tahun penjara, lalu bagaimana dengan mereka yang melakukan penebangan liar, hingga menggunduli hutan?


4. Nenek Minah Dihukum 3 Bulan Penjara

Nasionalis.ID
Nasionalis.ID

Ketika itu Nenek Minah warga Desa Darmakradenan, Ajibarang, Banyumas, sedang memanen kedelai ditanah garapannya, yang juga dikelola oleh PT Rumpun Sari Antan untuk menanam pohon Kakao. Sedang asik memanen kedelai mata tua Minah tertuju pada 3 buah kakao yang sudah ranum, kemudian Nenek Minah pun memetiknya dan meletakannya dibawah pohon, untuk disemai sebagai bibit di tanah garapannya.

Mandor perkebunan kakao PT RSA yang mengetahui hal tersebut, menceramahi Minah bahwa tindakan itu tidak boleh dilakukan karena sama saja mencuri. Sadar perbuatannya salah, Minah meminta maaf pada sang mandor dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. 3 Buah kakao yang dipetiknya pun dia serahkan kepada mandor tersebut dan mengira semua permasalahannya pun sudah beres.

Tapi setelah beberapa hari berlalu, ternyata Minah mendapat panggilan pemeriksaan dari polisi dan dibawa ke Pengadilan Negeri Purwokerto. Di sana, ia duduk sebagai terdakwa dan divonis 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan selama 3 bulan. Minah dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 362 KUHP tentang pencurian. Putusan tersebut disambut tepuk tangan meriah, karena Nenek Minah tidak harus menjalani hukumannya di penjara.


5. Mencuri Sandal Jepit Dibawa Ke Meja Hijau

Nasionalis.ID

Nasib malang rakyat kecil juga menghampiri remaja berinisial AAL, seorang pelajar SMK 3, Palu, Sulawesi Tengah. AAL tak pernah menyangka jika sepasang sandal jepit butut warna putih kusam yang ditemukannya di pinggir Jalan Zebra, Kota Palu, akan menyeretnya ke meja hijau. Dia dituduh telah mencuri sandal jepit milik Briptu Ahmad Rusdi Harahap, anggota Brimob Polda Sulteng dan terancam hukuman kurungan maksimal 5 tahun penjara.

Dalam proses persidangan yang berlangsung janggal tersebut, AAL didakwa mencuri sandal merek Eiger nomor 43. Tapi bukti yang diajukan adalah sandal merek Ando nomor 9,5 dan selama persidangan tak ada satu saksi pun yang melihat langsung apakah sandal merek Ando itu memang diambil AAL di depan kamar Rusdi.

Sedangkan sang pelapor (Rusdi) merasa yakin kalau sandal yang diajukan sebagai barang bukti itu adalah miliknya karena, katanya, ia memiliki kontak batin dengan sandal itu. Saat hakim meminta mencoba, tampak jelas sandal Ando itu kekecilan untuk kaki Rusdi yang besar. Maka AAL pun dibebaskan dari tuduhan mencuri dan dikembalikan kepada orangtuanya. Tapi, disisi lain majelis hakim memutus AAL bersalah karena mencuri barang milik orang lain.

Menurut pendapat kamu gimana pren??

Keywords:

  • kasus aneh di indonesia
  • kasus janggal
  • Contoh hukum Indonesia yang aneh
  • kasus hukum berat sebelah
  • kasus hukum di indonesia 2016
  • kasus aneh indonesia
  • hukum di indonesia aneh
  • kasus yang janggal
  • Kasus yang janggal di indonesia
  • kasus hukum aneh
About Arif Febri 81 Articles
Saya seperti yang Anda bayangkan

Be the first to comment

Cuap-cuap di sini gan!!!