Suka Duka Menjadi Seorang Guru, Inilah Yang Mereka Rasakan Di Balik Tugas Mulia Yang Selalu Mereka Emban

Suka duka jadi guru
Suka duka jadi guru

Nasionalis.Id  Nurmayani Salam seorang guru Biologi yang harus mendekam dipenjara karena mencubit muridnya, Rahman seorang guru SD yang harus berurusan dengan ranah hukum karena menindak siswanya yang memukuli 4 teman sekelasnya, Ustad Ali Bata Ritonga seorang guru MTS yang babak belur dihajar orang tua siswanya karena si siswa dicubit saat ujian. Itu hanya sedikit dari banyaknya berita miris tentang guru yang kena masalah gara-gara mendisiplinkan muridnya. Iya mungkin kalau tindakan mendisiplinkan dari guru ini kelewat batas, si orang tua murid bisa menindak lanjuti sikap guru tersebut. Tapi kalau masih dalam batas wajar, tentu akan mengundang pertanyaan kenapa tindakan disiplin dari guru yang seharusnya wajar ditekankan pada setiap muridnya ini malah salah dimata si wali murid. Entahlah apa yang ada dibenak orang tua murid, bisa jadi mereka terlalu memanjakan anaknya tersebut, atau mungkin mereka nggak tahu masalahnya, atau mungkin nggak tahu diri, atau malah nggak punya otak, hanya si orang tua yang tahu.

sungguh berbeda !
sungguh berbeda !

Saya bukan guru, saya juga bukan tokoh penting pendidikan, tapi saya merasa trenyuh jika seseorang yang mengajari saya membaca, menulis, menghitung tersandung masalah besar cuma gara – gara hal yang sepele. Dicubit lapor polisi, rambut dicukur lapor polisi, dipukul penggaris lapor polisi. Kan jadi kasihan polisinya pak/buk wali murid, polisi yang harusnya bantuin KPK buat nangkep koruptor malah bapak/ibu wali murid paksa ngurusin masalah konyol soal cubit-cubitan (pliss logikanya dipake !) Padahal dulu tindakan pendisiplinan yang masih dalam batas wajar seperti ini juga sering terjadi. Tapi tidak pernah sampai ada kasus pengaduan ke kepolisian karena orang tua juga paham kalau anak memang melanggar peraturan, sudah sepantasnya mendapat sanksi.

Miris nasib guru sekarang
Miris nasib guru sekarang

Entah apa yang membuat hal tersebut menjadi sangat berbeda sekarang, yang jelas perbedaan tersebut memaksa kita yang punya hutang budi dengan pahlawan tanpa tanda jasa ini merasa miris. Pasalnya guru tidak hanya berperan untuk memberikan pelajaran sekolah saja, tapi juga mendidik perilaku anak didiknya. Sayangnya terkadang kalau murid tidak bisa diatur, guru disalahkan. Tapi saat ditindak tegas, guru malah dilaporkan dan dianiaya (*mungkin si orang tua kurang piknik) Mungkin kebanyakan dari kita mengira kalau profesi guru itu mudah, masuk, ngasih tugas, nilai raport, udah. Tapi anggapan itu nggak spenuhnya benar, profesi guru bisa dibilang adalah salah satu profesi tersulit karena harus memikul beban berat untuk mencerdaskan siswa- siswinya, bukan hanya di bidang ilmu pengetahuan tapi juga perilaku. Nggak percaya ? berikut ada curhatan seorang guru tentang suka dukanya saat lebih dari 2 tahun menekuni profesinya tersebut.

Menjdi guru merupakan panggilan dan juga sebuah pilihan yang mana plihan itu harus benar-benar saya jaga, harus bisa konsisten dengan pilihan saya. Saya mengajar di Paud selama 2 tahun lebih, banyak suka duka yg saya alami.. Banyak yang beranggapan wah enak ya jadi guru Paud cuma nyanyi-nyanyi dan main-main sama anak-anak kecil. Padahal di situ banyak tantangan yang saya hadapi. Setiap harinya saya bertemu dan bersama anak-anak kecil yang mempunyai karakter berbeda-beda. Dimana kita yang harus masuk ke dunia anak bukan anak yang masuk ke dunia kita, jadi kita yang harus mengerti apa maunya anak bukan anak yang harus mengerti apa maunya kita. Memang sangat mnyenangkan dan juga gemesin. Namun, kesabaran dan ketulusan selalu di uji. Yang melihatnya cuma bisa komentar yang engak-enggak tapi biarlah. Setiap harinya menghadapi tingkahnya anak-anak yang kadang menjengkelkan namun harus tetap sabar. Sebenarnya orang tua juga berperan penting dalam pendidikan anaknya dan tidak hanya tanggung jawab guru semata. Namun banyak orang tua yang protes atau seolah-olah menyalahkan guru kenapa anak saya belum bisa baca tulis berhitung. Padahal semua itu apa tanggung jawab guru saja…?? Ada juga orang tua yang protes atau marah kalau ada anaknya yang ketika bermain jatuh atau terluka padahal semua itu bukan salah guru saja, bisa jadi karena anaknya yang begitu aktif dan tidak mau di kasih nasehat namun orang tua ada saja yang tetap menyalahkan gurunya, mentang-mentang bayar sekolah jadi guru yang salah, jadi semua tanggung jawab guru. Guru hanya bisa tetap sabar kalau hal seperti itu terjadi. Guru (di gugu lan di tiru) memang itu benar .. Dari segi penampilan gaya bicara kata-kata yang di keluarkan guru itu semua bisa di tiru anak. Karena anak adalah mesin foto copy yang handal yang dengan cepat bisa meniru tingkah laku atau penampilan kita. Jadi tidak hanya sekedar mengajar menyampaikan ilmu pengetahuan namun juga harus jaga etika dan sikap. Jangan jadi guru yang hanya mementingkan diri sendiri dan honor semata.

Karena menjadi guru tidak mudah. Banyak juga di luaran sana yang menginginkan profesi seperti kita. Jadi kita harus menjalankan profesi kita dengan sebaik-baiknya, meskipun banyak suka duka yang di lalui. Saya berpesan juga, buat yang jadi guru tetaplah jadi guru yang sejati jangan menjadi guru aspal. Yang menjadi guru aspal menjadi guru sejatilah. Karena guru merupakan publik figur sebagai cerminan anak didiknya dan karena semua kebaikan kita di perhitungkan oleh Allah. Saya belajar dari guru-guru saya yang dulu, terimaksih guru-guru SD, SMP, SMA saya yang penuh dengan kesabaran mendidik saya. Tetaplah mncintai murid-muridmu sekalipun mereka menjengkelkan. Dan orang tua tetaplah ikut berperan dalam mndidik anak jangan semua di pasrahkan ke guru nanti kalau ada apa-apa dengan anaknya guru yang di salahkan. Dan orang-orang juga lihatlah perjuangan guru-guru kita yang berusaha mencerdaskan anak-anak bangsa. Guru itu juga manusia biasa bukan manusia yang sempurna jadi mungkin guru ada salah juga saat membimbing anak. Jangan langsung menyalahkan guru namun lihatlah lingkungan juga berperan dalam pendidikan anak. Tetap semngat guru-guru pencerdas anak-anak bangsa. Kita berjuang bersama-sama. Anggapan-anggapan buruk tentang profesi guru, kita jadikan smngat saja .. 🙂 semngat dalam mengemban tugas mulianya.

Marthina S.Pd. (Facebook)

Gaji Guru di Indonesia dibanding Negara se-ASEAN

Gaji Guru di Negara-negara ASEAN
Gaji Guru di Negara-negara ASEAN

Dari data diatas gaji guru di Indonesia adalah yang terendah di negara-negara ASEAN. Sangat tidak layak jika dibandingkan dengan kewajiban yang mereka emban untuk mendidik dan menjamin generasi muda penerus bangsa.

Setidaknya curhatatan singkat dari ibu Marthina diatas bisa membuat kita mengerti, bahwa menjadi guru bukanlah perkara memberi nilai saja. Butuh pengertian dan kesabaran yang ekstra, tidak hanya itu saja, meskipun benar orang tua sudah membebankan tanggung jawab putra – putrinya pada guru tapi bukan berarti pula peran orang tua dalam membimbing anak tidak di butuhkan lagi. Orang tua juga punya tanggung jawab penting untuk membimbing putra – putrinya untuk lebih disiplin dan menghormati perkataan guru, nah apa bila orang tua jarang menekankan masalah ini pada putra – putrinya, bukan tidak mungkin sang anak akan kehilangan rasa hormatnya pada guru dan juga orang-orang lain di sekitarnya. Mungkin sekian artikel yang kami rasa sangat penting ini, semoga bermanfaat bagi semua orang dan pada ibu Marthina S.Pd. kami ucapkan banyak terimakasih atas curhatannya, tetap semangat mengemban tugas mulinya serta jangan menyerah meskipun banyak anak – anak dan wali murid yang menjengkelkan 😀

Keywords:

  • suka duka menjadi guru
  • suka duka jadi guru
  • suka duka menjadi guru sd
  • suka duka guru
  • suka duka seorang guru
  • suka duka jadi guru SD
  • nasib seorang guru sd
  • suka duka menjadi guru sma
  • seorang yang dulu tidak suka guru malah jadi guru
  • Suka duka menjadi seorang guru

Be the first to comment

Cuap-cuap di sini gan!!!