5 Kasus Pembunuhan Yang Tidak Terpecahkan Hingga Saat Ini (Indonesia dan Luar Negeri)

Kasus Pembunuhan Yang Selama ini Masih Menjadi Misteri (Poster Salim Kancil)
Kasus Pembunuhan Yang Selama ini Masih Menjadi Misteri (Poster Salim Kancil)

Nasionalis.ID – Dunia yang kita tinggali ini, memang banyak sekali menyimpan misteri. Entah sadar atau nggak, kita selalu dikelilingi oleh misteri-misteri yang mungkin belum terungkap. Seperti halnya kasus-kasus pembunuhan yang terjadi diluar maupun didalam negeri kita sendiri. Pembunuhan misterius yang belum terungkap ini sudah ditutup atau sengaja ditutup, karena tidak diketahui siapa pelaku serta motif apa yang menjadi dasar untuk melakukan pembunuhan sadis tersebut. Sehingga membuat kasus misterius ini menjadi ramai diperbincangkan dan memiliki daya tarik tersendiri untuk selalu diceritakan. Berikut beberapa kasus pembunuhan yang masih menyimpan misteri hingga saat ini.


Black Dahlia Murder (1947)

Elizabeth Short, Korban Pembunuhan Tragis
Elizabeth Short, Korban Pembunuhan Tragis

Kasus pembunuhan yang terjadi di Los Angeles ini mungkin menjadi kasus yang paling ramai diperbincangkan, bahkan hingga 60 tahun berlalu kasus ini dianggap sebagai kasus yang tak terpecahkan. Pembunuhan ini melibatkan seorang wanita 22 tahun asal Hydepark, Massachusetts bernama Elizabeth Short yang lahir tanggal 29 Juli 1924.

Ketika itu tepatnya tanggal 15 Januari 1947, seorang wanita yang sedang berjalan bersama anaknya melawati lahan kosong penuh semak-semak, ia melihat sesuatu berwarna putih dibalik semak-semak, seperti sebuah manekin dari departemen store yang terbelah. Dipenuhi dengan rasa penasaran ia memeriksa kain putih tersebut dan betapa kagetnya ia, apa yang ia sangka sebagai manekin tersebut ternyata adalah mayat seorang wanita berkulit putih yang telah terpotong menjadi 2.

Kondisi mayat saat itu sangatlah kacau, posisinya telentang dengan tangannya terangkat diatas bahu, bagian kakinya terbuka lebar dalam pose yang vulgar. Tubuhnya dipenuhi luka robek dan sayatan, mulutnya robek dari telinga satu hingga telinga lain. Bekas luka ikatan dipergelangan tangannya menunjukkan kalau dia sudah disiksa berhari-hari, dan yang lebih mengerikan lagi tubuhnya terbelah dua secara rapi diatas pinggul. Walaupun tidakditemukan adanya sperma pada tubuh korban, tapi hasil otopsi menyebutkan kalau ada tanda-tanda bekas pemerkosaan dan sodomi.

Detektif yang menangani kasus tersebut (Harry Hansen & Finis Brown) menduga kalau korban dibunuh ditempat lain, dan baru membuangnya disitu pada malam hari. Karena di lokasi kejadian, mereka tidak menemukan senjata, darah ditubuh dan di TKP, serta tidak mendapatkan jejak kaki apapun.

Elizabeth Short atau biasa disapa beth ini dikenal sebagai seorang yang cantik, supel, dan juga mudah bergaul, dia memiliki banyak kenalan, baik pria maupun wanita dari kalangan atas. Parasnya yang cantik tak jarang membuat laki-laki terpesona, salah satu teman baiknya adalah Mark Hanssen, pemilik teater dan klub malam.

Teman-teman Beth mulai memanggilnya Black Dahlia ketika di masyarakat saat itu sedang ramai-ramainya film “The Blue Dahlia” yang dibintangi oleh Veronica Lake dan Alan Ladd. Tak hanya itu, julukan Black Dahlia ia sandang karena rambutnya yang berwarna hitam pekat dan kesukaannya memakai pakaian serba hitam.

Setelah kasus pembunuhan Black Dahlia itu santer dibicarakan, ada setidaknya 60 orang (pria dan juga wanita) yang mengaku telah membunuh Beth. Namun, polisi menolak hal itu, dan menganggap mereka hanya mencari sensasi saja, karena pengakuan mereka tidak disertai dengan adanya bukti-bukti yang otentik.

Pelaku pembunuhan Beth tidak terpecahkan, bahkan sampai seseorang bernama Janice Knowlton menulis sebuah buku dengan judul “Daddy was the Black Dahlia Killer”, yang isinya tentang teori si pembunuh Black Dahlia adalah ayahnya sendiri George Knowlton. Tapi hal teori tersebut ditolak oleh polisi, karena menganggap Jenice menulis teorinya hanya berdasarkan ingatan yang depresi, lantaran ayahnya sering melakukan penganiayaan secara seksual sejak ia kecil.

Walaupun teori-teori baru yang mencuba menguak pembunuhan sadis dan misterius tersebut terus bermunculan, namun tetap saja kasus tersebut tidak pernah selesai dan LAPD (Los Angeles Police Department) mengkategorikan kasus ini sebagai Unsolved (tak terpecahkan) hingga saat ini. Saking misteriusnya kasus pembunuhan ini, sampai-sampai nama kasusnya digunakan untuk nama sebuah band beraliran Melodic Detah Metal asal Waterford, Michigan, Amerika yaitu The Black Dahlia Murder.

Kasus Taman Shud (1948)

Korban Dalam Kasus Taman Shud
Korban Dalam Kasus Taman Shud

Kasus yang juga disebut sebagai Misteri Pria Somerton ini menjadi salah satu kasus paling aneh dan misterius dalam sejarah Australia. Jam 6.30 pagi tanggal 1 Desember 1948, seorang pria bernama J Lyons sedang bersantai di Pantai Somerton, Adelaide, Australia, namun matanya tertuju kepada seorang pria yang tergeletak di tembok pembatas ombak. Lyons pun menjadi curiga, kemudian ia mendekat dan memeriksanya, tapi pria tersebut ternyata sudah meninggal. Seketika itu ia langsung menghubungi kantor polisi Brighton.

Ketika petugas kepolisian Moss dan Strangway datang, mereka tak menemukan tanda-tanda kekerasan ataupun perampokan pada mayat tersebut. Karea pakaiannya masih utuh, hanya puntung rokok yang baru setengah hisap disamping kanan kerah jasnya.

Akhirnya mayat tersebut dibawa ke Rumah Sakit Royal Adelaide. Pihak rumah sakit menyimpulkan kalau pria tersebut meninggal sekitar jam 2 pagi, dan setelah melakukan otopsi, anehnya mereka tidak bisa menemukan penyebab kematiannya.

Pihak rumah sakit mengatakan kalau mereka memang menemukan adanya tanda-tanda kercunan, terlihat dari darah yang menggumpal diperut dan juga cirri-ciri gagal jantung. Tapi mereka sama sekali tidak menemukan sisa-sisa racun di tubuhnya.

Dalam saku pakaian pria tersebut terdapat beberapa benda, antara lain tiket kereta api tujuan Pantai Henley (belum digunakan), tiket bus ke Glenelg (sudah digunakan), permen karet, 2 bungkus rokok beda merek dan juga korek api. Tanpa uang dan tanpa identitas.

Pria ini diduga berasal dari Eropa, memiliki tangan halus dan kuku yang terawat, yang menunjukan dia bukan seorang pekerja kasar. Badannya tinggi dan berbentuk, bahunya lebar dengan pinggang yang ramping. Telapak kakinya menunjukan ciri-ciri seorang penari.

Yang lebih aneh lagi, semua merek dari pakian yang dikenakan pria itu juga tidak ada, diduga sengaja dihilingkan. Polisi yang merasa kebingungan dengan identitas pria tersebut, langsung menyebarkan foto dan sidik jarinya. Mulai dari seluruh penjuru Australia, Selandia Baru, dan semua negara yang berbahasa inggris lainnya, namun saying tidak ada satu pun informasi atau catatan yang didapat mengenai pria itu.

Setelah mayat itu diawetkan, Polisi terus melakukan penyelidikan-penyelidikan kasus yang membingungkan ini. Hingga pada bulan Januari 1949, polisi seperti dituntun untuk menemukan sebuah koper yang tersimpan di stasiun Adelaide.

Menurut hasil investigasi, dinyatakan kalau koper tersebut telah disimpan sejak 30 November lalu. Koper tersebut berisi piyama, baju, dasi, sepatu, obeng, alat cukur dan sebuah pisau. Namun lagi-lagi tidak ada merek yang menempel dipakaian-pakian tersebut.

Lima bulan sejak penemuan mayat, tepatnya pada bulan April 1949, Prof. John Burton Cleland menemukan potongan kertas yang bertuliskan Tamam Shud (Taman Shud) di dalam kantong kecil pakaian pria tersebut.

Setelah diteliti, kata tersebut berasal dari bagian puisi “The Rubaiyat” karya Omar Kayyam, seorang penyair berkebangsaan Persia. Dan dalam bahasa Persia, kata “Taman Shud” berarti “Tamat” atau “Selesai”.

Seorang Dokter menyerahkan buku “The Rubaiyat” yang pada bagian akhirnya hilang, polisi menemukan kecocokan antara potongan kertas dari kantong pria tersebut dengan bagian buku yang hilang. Tapi tetap tidak menunjukkan titik terang, karena buku tersebut ditemukan tergeletak dikursi depan mobilnya yang terpakir didepan rumah tanggal 30 November lalu.

Pada bagian belakang buku tersebut, polisi menemukan sebuah nomor telepon yang diyakini milik seorang mantan perawat yang tinggal di Glenelg, dekat lokasi penemuan mayat.

Ketika ditanya, wanita itu mengatakan kalau ia mememang pernah memiliki buku The Rubaiyat, tapi di tahun 1944 ia memberikannya kepada Alfred Boxall, seorang letnan dari kemiliteran Australia. Lalu polisi pun meyakini kalau mayat tersebut adalah mayat Boxall.

Hingga kemuadian Boxal muncul dengan membawa buku The Rubaiyat yang masih lengkap dengan kata “Taman Shud” dan menunjukkan ayat 70 dari Rubaiyat dihalaman depannya. Ayat tersebut ditulis oleh wanita yang memberikan buku itu kepadanya.

Ayat 70 dari Buku The Rubaiyat yang ditulis wanita itu:

Indeed, indeed, Repentance oft before
I swore–but was I sober when I swore?
And then and then came Spring, and Rose-in-hand
My thread-bare Penitence a-pieces tore.

Dari situ dugaan pun bermunculan, ada yang mengatakan kalau wanita itu ada keterkaitan besar dengan kasus pembunuhan ini. Ada pula yang mengatakan kalau Alfred Boxall adalah intelejen Australia sedangkan pria itu adalah mata-mata rusia yang tewas dibunuh.

Hingga pada tanggal 14 Juni 1949, pria misterius dari Somerton tersebut dikuburkan dan kepolisian  Australia menganggap kasus ini sebagai unsolved case atau kasus yang tak terpecahkan.

Kasus Pembunuhan Marsinah (1993)

Pejuang Kaum Buruh
Pejuang Kaum Buruh

Banyak dari kita tentunya sudah tahu atau mengenal siapa itu Almarhumah Marsinah. Wanita yang lahir di Nglundo, 10 April 1969 ini merupakan pejuang HAM, aktivits dan juga seorang buruh di PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

Ketika itu awal tahun 1993, Gubernur Jawa Timur mengeluarkan surat edaran yang berisikan himbuan kepada para pengusaha untuk memberikan kenaikan gaji pokok sebesar 20% untuk karyawannya. Hal ini tentu disambut dengan senang hati oleh para pegawai perusaahaan, namun PT. CPS menanggapi himbuan ini dengan resah karena dirasa menambahkan bebab mereka. Akhirnya para karyawan PT. CPS memutuskan untuk melakukan unjuk ras pada tanggal 3 dan 4 Mei 1993, menuntut hak kenaikan gaji mereka dari Rp. 1700 menjadi Rp. 2250.

Marsinah adalah salah satu dari 15 perwakilan buruh yang melakukan perundingan terhadap pihak perusahaan, dia menyatakan 12 tuntutan yang mereka rundingkan bersama teman-temannya termasuk kenaikan gaji pokok Rp. 1700 menjadi Rp. 2250 dan juga tunjangan sebesar Rp. 550 perhari.

Setelah menemui kesepakatan bersama, tepatnya tanggal 5 Mei dengan tanpa Marsinah, 13 Buruh yang turut serta dalam perundingan tersebut dipanggil dan dipaksa mengundurkan diri dari perusahaan CPS. Mereka dibawa ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo, karena mereka dianggap sebagai penghasut/provokator dalam aksi unjuk rasa yang terjadi.

Marsinah yang merasa kehilangan rekan-rekannya, sempat mendatangi Kodim Sidoarjo dan menanyakan keberadaan teman-temannya yang sebelumnya mereka panggil. Dan mulai saat (5 Mei malam) Marsinah hilang, tidak ada yang mengetahui kabar dan keberadaannya. Hingga akhirnya ia ditemukan tewas di gubuk petani dekat hutan di Dusun Jegong, Desa Wilangan, Nganjuk tanggal 8 Mei.

Disekujur tubuhnya ditemukan penuh luka dan memar akibat penyiksaan, pada pergelangan tangannya terdapat lecet-lecet, yang diduga ia telah diikat dan diseret-seret. Bagian pinggulnya hancur karena pukulan benda keras berulang kali, dan disela-sela pahanya terdapat bercak bekas penganiayaan. Jelas ia telah mengalami penyiksaan berat sebelum akhirnya tewas dengan mengenasknan.

Baru pada tanggal 30 September 1993 Tim Terpadu Bakorstanasda Jatim, tim yang ditugaskan untuk melakukan penyelidikan kasus pembunuhan terhadap Marsinah. 8 petinggi PT CPS termasuk Yudi Susanto pemilik perusahaan tersebut ditangkap secara diam-diam dan taanpa prosedur resmi.

Mereka mengalami penyiksaan fisik maupun mental selama diinterograsi dan dipaksa mengaku telah membuat skenario serta menggelar rapat untuk membunuh Marsinah. Selang 18 hari kemudian, diketahui mereka telah mendekam di tahanan Polda Jatim. Namun, Trimoelja D. Soerjadi (pengacara Yudi Susanto) berhasil mengungkap adanya rekayasa oknum aparat Kodim untuk mencari kambing hitam atas pembunuhan Marsinah.

Kemudian Tim Terpadu secara resmi menangkap serta memeriksa 10 orang (salah satunya anggota TNI) yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhan Marsinah. Yudi Susanto dijatuhi hukuman 17 tahun penjara dan yang lainnya 4 hingga 12 tahun penjara, akhirnya mereka naik banding ke Pengadilan Tinggi dan dinyatakan bebas. Selain itu Mahkamah Agung Republik Indonesia juga membebaskan mereka dari segala dakwaan (bebas murni) pada saat proses tingkat kasasi.

Keputusan tersebut membuat sebagian pihak kecewa dan merasa tidak puas, sehingga menimbulkan asumsi adanya rekayasa atas penyelidikan kasus ini. Hingga kini keberanian Marsinah dalam memperjuangkan hak-hak sebagai buruh dianggap sebagai tindak kepahlawanan dan telah menginspirasi banyak orang. Slamet Rahardjo membuat film tentang kisah Marsinah, dengan judul “Marsinah (Cry Justice)” dan Band beraliran Punk asal Jakarta yaitu Marjinal membuat lagu tentang sosoknya, yang berjudul “Marsinah” dalam 2 album sekaligus yaitu Termarjinalkan dan Predator yang masing-masing berbeda versi.

Kasus Pembunuhan Udin (1996)

Wartawan yang Terkenal Kritis Terhadap Kebijakan Orde Baru
Wartawan yang Terkenal Kritis Terhadap Kebijakan Orde Baru

Fuad Muhammad Syafruddin akrab disapa Udin merupakan seorang wartawan Harian Bernas DIY (sejak 1986) yang lahir pada tanggal 18 Februari 1964 di Bantul, Yogyakarta. Udin dikenal sebagai seorang wartawan yang kritis terhadap kebijakan pemerintah Orde Baru dan militer, yang juga disampaikan lewat artikel-artikel yang ditulisnya.

Sebelum meninggal tanggal 16 Agustus 1996, Udin sempat dianaya oleh pria misterius. Ketika itu tanggal 13 Agustus sekitar jam 23.30 WIB, Udin kedatangan tamu seorang pria yang tak dikenal dan dan kemudian Udin dianiaya pria tersebut didepan kontrakannya di dusun Gelangan Samalo, Jalan Parangtritis.

Sejak itu Udin dirawat di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta dalam keadaan koma. Kemudian ia menjalani operasi otak, namun karena luka parah yang dideritanya akibat pukulan batang besi  dibagian kepala, akhirnya Udin pun dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 16 Agustus 1996 pukul 16.50 WIB.

Kasus pembunuhan Udin menjadi ramai diperbincangkan, ketika Kanit Reserse Polres Bantul, Serka (Sersan Kepala) Edy Wuryanto dilaporkan telah membuang bukti-bukti seperti sampel darah dan buku catatan Udin. Serka Edy Wuryantoro mendatangi rumah orang tua Alm Udin dan meminta sampel darah untuk mencari pembunuh Udin dengan cara supranatural (dilarung ke laut Pantai Selatan) serta buku catatan untuk keperluan penyelidikan kasus.

Kemudian ada pihak-pihak yang mencari kambing hitam atas peristiwa pembunuhan Udin, yaitu Tri Sumaryani dan Dwi Sumaji alias Iwik. Sumaryani mengaku telah ditawari imbalan sejumlah uang untuk membuat pengakuan bahwa Udin telah melakukan hubungan gelap/perselingkuhan dengannya, dan kemudian suaminyalah yang telah membunuh Udin.

Sedangkan Iwik yang seorang sopir dari Dymas Advertising Sleman diculik di perempatan Beran, Sleman, ia dibawa ke sebuah Losemen Agung Parangtritis. Disana Iwik dicekoki berbotol-botl minuman keras, disediakan wanita penghibur, diberi uang serta jaminan hidup untuk keluarganya. Kemudian ia dibawa ke Hotel Queen of The South Parangtritis dan disuruh mengaku sebagai pembunuh Udin oleh Serma Pol Edy Wuryanto alias Franki. Yang sebelumnya juga telah menjebaknya, dengan alasan untuk bisnis Billboard. Dalam proses pengadilan, Iwik mencabut semua “pengkuan”nya. Dia mengatakan kalau dirinya adalah korban rekaya dan berada dibawah ancaman serta tekanan dibawah ancaman tekanan dan paksaan oleh Kanit Reserse Polres Bantul Serka Edy Wuryanto.

Namun Iwik tetap dijadikan tersangka, dan menjalani tahana luar. Setelah istri Iwik (Sunarti) mengadu ke Komnas Ham dan Kapolri atas penangkapkan suaminya, kemudian Komnas Ham segera melakukan investigasi lapangan dan menyimpulkan bahwa terjadi pelanggaran hak asasi manusia ketika proses penangkapan Iwik, karena dilakukan dengan cara yang sangat tidak etis dan penyitaan barang bukti milik Iwik pun dilakukan secara spekulatif.

Kesimpulan tersebut dianikan ke persidangan selanjutnya untuk pembebasan Iwik. Persidangan diwarnai dengan banyak teror dari pembela-pembela Serka Edy Wuryanto, hingga ada yang memberikan kesaksian palsu dibawah sumpah. Tapi kebenaran tetap menang dan Iwik pun divonis bebas oleh majelis hakim, dengan begitu motif perselingkuhan yang dituduhkan juga ikut runtuh.

Dalam kesaksiannya di persidangan, Iwik menyatakan selain jadi korban rekayasa dan bisnis politik, ia dipaksa menjalankan skenario rekayasa Serka Edy Wuryanto alias Franki dengan alasan untuk melindungi kepentingan Bupati Bantul Sri Roso Sudarmo.

Prof Dr JE Sahettapy SH seorang pakar pidana dari Universitas Airlangga berpendapat kalau pengusutan kasus Udin banyak direkayasa. Ia juga menilai motif yang selama ini diyakini polisi yaitu motif perselingkuhan terlalu dicari-cari.

Selesai sidang pengadilan Iwik, banyak tuntutan yang mendesak polisi untuk mencari, mengungkap motif, dan menangkap pelaku pembunuhan Udin yang sebenarnya. Tapi hingga saat ini, kasus menyedihkan itu tak kunjung terpecahkan atau memang sengaja tidak dipecahkan agar hilang dan kadaluarsa dimakan jaman.

Beberapa judul artikel yang dibuat Udin, sebelum dia dianiaya adalah:

  • 3 Kolonel Ikut Ramaikan Bursa Calon Bupati Bantul’
  • Soal Pencalonan Bupati Bantul: banyak “Invisible Hand” pengaruhi Pencalonan
  • Di Desa Karangtengah, Imogiri, Bantul, Dana IDT Hanya Diberikan Separo
  • Isak Tangis Warnai Pengosongan Parangtritis

Kasus Pembunuhan Munir (2004)

Munir Said Thalib, Seorang Aktivis HAM
Munir Said Thalib, Seorang Aktivis HAM

Munir Said Thalib lahir tanggal 8 Desember 1964 di Malang, Jawa Timur, almarhum merupakan seorang aktivis pemberani dan seorang pejuang HAM (Hak Asasi Manusia) berdarah Arab-Indonesia. Namanya mulai dikenal luas saat menjabat sebagai Dewan Kontras, yang memperjuangkan orang-orang hilang karena diculik pada waktu itu.

Dia pernah menjadi salah satu pengacara buruh PT. CPS melawan Kodam V Brawijaya, yang pada saat itu sedang gempar masalah pembunuhan Marsinah. Selain itu dia juga menjadi pembela para aktivis yang menjadi korban penculikan oleh Tim Mawar dari Kopassus, yang kemudian menjadi alasan pencopotan Danjen Kopssus Prabowo Subianto serta diadilinya Tim Mawar, setelah Soeharto lengser.

Ketika itu Munir sedang melakukan perjalanan dari Indonesia ke Belanda, dengan tujuan untuk melanjutkan studi S2-nya dalam bidang hukum humaniter di Universitas Utrecht menggunakan Pesawat Garuda Indonesia GA 974.

Dalam sebuah laporan menyebutkan, ketika Munir hendak memasuki pintu Pesawat (pintu masuk kelas bisnis), ia bertemu dengan seorang kru pesawat yang sedang tidak bertugas, dia adalah Pollycarpus Budihari Priyanto atau akrab disapa Polly. Hingga akhirnya Polly menawarkan tempat duduknya di kelas bisnis kepada munir, yang seharusnya duduk dikelas ekonomi.

Ketika hendak take off, di kelas bisnis, pramguri bernama Yeti Susmiarti menawarkan welcome drink antara lain sampanye, jus jeruk, atau jus apel, dan Munir pun memilih jus jeruk. 15 menit setelah pesawat tinggal landas, Yeti kembali menawarkan makanan dan minuman, kali ini pilihan minuman tersebut lebih banyak dari sebelumnya. Termasuk minuman beralkohol, sof drink dan jus-jus lainnya, Munir pun memilih makanan mie goreng dan lagi-lagi memilih jus jeruk sebagai minumannya.

Sekitar 1 jam 30 menitan, pesawat akhirnya transit di bandara Changi Singapura, disana Munir turun dan menghabiskan waktu pesawat transit untuk minum kopi dikedai terdekat. Sedangkan semua awak pesawat termasuk Polly menuju hotel, karena memang pada waktu transit dilakukan persiapan seperti mengisi bahan bakar, pergantian awak serta penambahan penumpang dari bandara tersebut.

Ketika hendak menuju pesawat, Munir disapa seorang laki-laki bernama dr. Tarmizi dari Rumah Sakit Harapan Kita, mereka berbincang sambil berjalan menuju pesawat dan akhirnya dr. Tarmizi memberikan Munir kartu namanya sebelum akhirnya berpisah dr. Tarmizi menuju kelas bisnis sedangkan Munir menuju kelas ekonomi, seperti seharusnya.

Ketika hendak tinggal landas, Munir meminta obat promag kepada Tia Dewi Ambara (pramugari yang bertugas). Namun, Tia menyuruhnya menunggu karena semua awak kabin harus ditempatnya masing-masing ketika hendak tinggal landas. Sekitar 15 menit kemudian, Tia mengatakan kepada Munir kalau mereka tidak memiliki obat yang dimintanya. Lalu Tia menawarkan makanan kepadanya, tapi Munir menolaknya dan meminta segelas teh hangat. Tak perlu waktu lama, Tia pun segera menungkan teh panas dari teko di atas trolinya, dan memberikannya kepada Munir lengkap beserta satu sachet gula.

Sekitar 3 jam kemudian, Munir merasakan sakit di perutnya, dia pun harus bolak balik ke toilet. Ketika itu ia berpapasan dengan pramugara Bondan Hernawa, Munir pun mengeluhkan muntaber dan meminta Bondan untuk memanggilkan dokter yang ia kenal sebelumnya, sambil memberikan kartu nama dr. Tarmizi.

Kemudian dr Tarmizi melakukan pemeriksaan umum terhadap Munir, ia mengatakan kalau Munir kekurangan cairan akibat muntaber yang dideritanya. Munir merasa kalau sakitnya maagnya kambuh dan seharunya ia tidak seharusnya minum jus jeruk, tapi sang dokter menyanggahnya dengan mangatakan “kalau maag tidak begini.”

Tak lama setelah itu, Munir kembali ketoilet dengan diikuti dokter, pramudari dan juga pramugari. Setelah muntah dan buang air, Munir kembali ke tempat duduknya, kali ini disertai batuk-batuk berat. Dr. Tarmizi menyuruh paramugari untuk mengambilkan kotak obat yang ada di pesawat, dengan keadaan masih tersegel sang dokter membukanya dan mengatakan kalau obat-obatan yang ada sangatlah minim, terutama untuk kebutuhan Munir. Jangankan infus, obat diare biasa pun tak ada.

Akhirnya dr. Tarmizi pun mengeluarkan obat-obatan dari tasnya sendiri, dan memberikan Munir obat diare New Diatabs serta obat mual dan perih kembung Zantacts dan Promag. Dokter Tarmizi meminta pramugari untuk membuatkan teh dengan tambahan sedikit garam, tak lama setelah minum obat Munir kembali lagi ke toilet.

5 menit kemudian, Munir dibantu sang dokter kembali ke tempat duduknya sambil berkomentar kepada purser Madjib, “Mengapa infus saja tidak ada padahal perjalanan sejauh ini?”. Dokter Tarmizi mengambil Primperam, obat anti mual dan muntah yang kemudian disuntikannya ke bahu kiri Munir sebanyak 5 ml. Suntikan tersebut berhasil, karena Munir tertidur hingga kurang lebih selama tiga jam.

Tapi setelah itu Munir bangun dan kembali ke toilet. Kali ini agak lama, sekitar 10 menit ia berada didalam toilet, ternyata tubuhnya sudah bersandar lemas didinding toilet. Lalu sang dokter memberikan suntikan Diazepam di bahu kanan Munir, namun ia merasa masih mual dan sakit perut. Munir berkata kalau dia merasa sangat capek dan ingin tidur berbaring.

2 jam sebelum pesawat mendarat, Munir ditemukan tewas dengan mulut mengeluarkan air yang tidak berbusa dan kedua telapak tangannya membiru. Pada saat itu pula dr. Tarmizi berkata “Purser, Pak Munir meninggal… Kok secepat ini, ya…. Kalau cuma muntaber, manusia bisa tahan tiga hari.”

Di atas tanah Rumania, awak kapal memangkat dan memindahkan jenazah ke tempat yang lebih baik. Bondan memejamkan mata Munir dan dengan ditemani Asep, ia membacakan surat Yassin didepan jenazah Munir Said Thalib.

Setelah dilakukan otopsi di Belanda oleh Institut Forensik setempat, menemukan bahwa dalam tubuh Munir terdapat kandungan racun Arsenik sebanyak 460 mg didalam lambungnya dan 3.1mg/l dalam darahnya. Hal serupa juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia, diduga ada oknum-oknum yang sengaja meracuni dan menyingkirkan aktivis yang terkenal kritis dalam menganggapi kasus-kasus HAM ini.

Walapun ada beberapa oknum yang dijatuhi vonis, namun tampaknya pelaku pembunuhan ini tak akan pernah terpecahkan. Desember 2005, Pollycarpus Budihari Priyanto (pilot garuda yang sedang cuti) dijatuhi vonis 14 tahun penjara, karena diduga telah memberi racun di makanan Munir. Hakim persidangan menyatakan kalau sebelum pembunuhan, Polly menerima beberapa panggilan, tapi tetap tidak bisa memberikan penjelasan lebih.

Kemudian Presiden SBY membentuk tim investigasi independen, namun hasil penyelidikannya tidak pernah di ungkap ke publik. Hingga akhirnya Mayjen (purn) Muchdi Pr (Wakil Ketua Umum Gerindra) yang kebetulan teman dekat Prabowo Subianto, ditangkap Juni 2008 dengan kesaksian dan bukti kuat mengarah padanya sebagai dalang/otak pembunuhan Munir. Namun pada bulan Desember 2008, Muchdi divonis bebas.

Permainan macam apa yang sebenarnya para petinggi mainkan? Bukankah seharusnya mereka menjaga aktivis-aktivis hebat seperti Munir? Namun kenapa malah seperti ini? Atau mungkin ada oknum-oknum yang tidak suka dengan Munir? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan besar yang menyelimuti kematian aktivis HAM, Munir Said Thalib….


Sebenarnya masih banyak kasus-kasus di Indonesia yang tak terpecahkan, seperti kasus penculikan para aktivis oleh Tim Mawar, kasus Petrus “Penembakan Misterius” (Opeasi Clurit), pemerkosaan Sum Kuning, kematian Peragawati Dietje (baca: Dice) dan lain-lain. Tapi saya sengaja menyertakan 2 kasus pembunuhan yang tak terpecahkan dari luar negeri, agar kamu bisa membandingkan dan mengerti, walaupun sama-sama tak terpecahkan tapi terdapat perbedaan yang mencolok. Jika diluar negeri pembunuhnya memang benar-benar tak meninggalkan jejak, sehingga menyulitkan pihak polisi untuk melakukan penyelidikan. Sedangkan kasus pembunuhan di negeri kita, seperti ada indikasi kesengajaan untuk menutup-nutupi, sengaja disembunyikan, hanya untuk kepentingan dan kenyamanan pejabat, petinggi, orang penting, orang yang banyak uang oknum-oknum tertentu.

Lalu dimana letak keadilan dan kedamaian untuk rakyat kecil, jika ada orang kecil yang mengkritisi pemerintahan selalu disingkirkan? Percayalah kalau saja Tuhan tidak memberikan hukuman setelah mati, hidup ini tidak akan adil untuk mereka (yang disingkirkan dengan sengaja). Kita sudah banyak kehilangan pahlawan-pahlawan, seperti Marsinah, Munir, Salim Kancil, Widji Thukul dan lain-lainnya. Akankah kita kehilangan orang-orang seperti mereka lagi nanti? Entahlah,, disini saya hanya mencoba untuk kembali mengingat bahwa di Indonesia masih ada kasus tragis yang tidak dipecahkan terpecahkan. Terimakasih

About Arif Febri 81 Articles
Saya seperti yang Anda bayangkan

Be the first to comment

Cuap-cuap di sini gan!!!