Kisah 6 WNA Yang Rela Meninggalkan Negaranya Sendiri Untuk Mengabdi Pada Indonesia

Nasionalis.id – Seberapa cinta kamu pada Indonesia ? Sebuah pertanyaan sederhana yang sudah pasti akan kita (sebagai orang Indonesia) jawab sangat mencintainya. Tapi sayang, terkadang jawaban tersebut seakan berbalik 180 derajat dengan sikap orang Indonesia yang terkadang mempertanyakan “apa yang bisa di banggakan dari Indonesia ?”, “Indonesia itu apa ?” dan ungkapan – ungkapan lain ketika membandingkan Indonesia dengan negara lain yang lebih maju. Iya, mungkin Indonesia itu cuma negara berkembang, prestasi di kancah Internasional juga nggak banyak – banyak amat. Tapi Indonesia itu keren lho guys, Indonesia itu negara yang kaya dengan sumber daya alam, kaya dengan sumber daya manusia, kaya dengan berbagai macam suku dan budaya. Tapi yang membuat saya heran, kok masih ada orang Indonesia yang membenci negerinya sendiri, kok ada orang Indonesia yang mengejek negerinya sendiri dan yang lebih parah lagi, ada orang Indonesia yang malu jadi warga negara Indonesia. Ada apa ini ? Apa yang salah dengan Indonesia ? padahal banyak warga negara asing yang falling in love dengan Indonesia bahkan mereka tidak malu membanggakan Indonesia dan menanggalkan status kewarganegaraannya sendiri untuk pindah dan menetap di Indonesia. Nggak percaya kalo ada warga negara asing alias bule yang cinta mati bahkan mendedikasikan hidupnya untuk mengabdi pada Indonesia ? berikut Kisah 6 WNA yang rela meninggalkan negaranya sendiri untuk mengabdi pada Indonesia;

Andre Graff

Andre Graff
Andre Graff

Pekerjaan mapan, gaji gedhe dan hidup mewah, siapa coba yang mau meninggalkan kemewahan tersebut ? Tapi lain cerita dengan yang dilakukan Andre Graff. Seorang pria yang lahir dan besar di Prancis dengan sukarela meninggalkan segala kemewahan di negara asalnya dan memutuskan hidup di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagai seorang penggali sumur. Andre Graff dulunya adalah seorang pilot balon udara, sekaligus pemandu wisata bagi para turis yang ingin menikmati keindahan alam Prancis serta beberapa daerah di dekat Pegunungan lpen. Kisah bermula ketika Andre terserang penyakit mematikan yang hampir merenggut nyawanya, tidak disangka dia berhasil sembuh dari penyakitnya bahkan sehat total. Sejak itu dia menginginkan hidupnya dapat berguna bagi orang banyak, berawal dari sebuah wisata ke Indonesia pada tahun 1990 dan datang lagi pada tahun 2004, Andre tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalo dia telah jatuh cinta pada Indonesia. Tahun 2005, Andre Graff memutuskan untuk menetap di Kepulauan Riung, Sabu Raijua, Sumba dan Lembata karena tertarik dengan kehidupan lokal di sana yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya sampai sekarang. Ditempat tersebut dia menemui fenomena menggerakkan hatinya bahwa di desa tersebut mengalami kesulitan untuk mendapat air bersih, dengan modal yang dia bawa dari Prancis, dia belajar menggali sumur, mencari sumber air bersih, dan membuat gorong – gorong beton agar air tidak tercemar oleh lumpur, bahkan dia tidak keberatan untuk terjun langsung dalam penggalian sumur tersebut. Usahanya serta gotong royong penduduk setempat sejak tahun 2005-2007 akhirnya membuahkan hasil, sudah lebih dari 25 sumur yang diperuntukkan bagi 3 desa sekitar berhasil di bangun. Dia juga mengajarkan semua hal yang dia tahu pada penduduk setempat bahkan dia juga berkeinginan membuat filtrasi air, agar masyarakat bisa langsung menikmati air sumur tanpa memasaknya lebih dulu.


Aurelien Francis Brule

Aurelien Francis Brule
Aurelien Francis Brule

Mungkin tidak banyak yang mengenal pria asal Prancis bernama Aurelien Francis Brule ini, tapi usahannya untuk memperjuangkan satwa endemik Pulau Sumatera dan Kalimantan sungguh luar biasa, bahkan dia rela meninggalkan negaranya sendiri dan mendedikasikan hidupnya untuk mengobservasi dan melindungi primata asal Indonesia, dan salah satu primata yang menarik perhatiannya adalah owa – owa. Kecintaan Brule terhadap primata ini bermula ketika dirinya diajak kedua orang tuanya untuk berkunjung ke salah satu kebun binatang di Prancis, Brule yang kala itu baru berusia 12 tahun melihat seekor Owa-owa yang terlihat murung dan sendirian. Kejadian itulah yang membuatnya penasaran dan ingin mempelajari lebih dalam tentang Owa-owa, menginjak usia 16 tahun, Brule tertarik menuliskan berbagai pengalamannya selama mengamati perilaku dan karakter satwa itu. Awalnya dirinya beranggapan kalau coretannya tersebut hanya akan diminati kalangan terbatas saja, tapi siapa sangka begitu buku berjudul ‘Le gibbon a mains blanches’ itu diterbitkan ternyata malah banyak menarik perhatian masyarakat bahkan setelah membaca buku tersebut seorang artis Muriel Robin ingin bertemu langsung dengan Aurelien Francis Brule dan memberikan sokongan dana agar dapat pergi ke Thailand untuk mengamati kehidupan Owa – owa secara langsung di habitat aslinya. Perjalanan Brule mengamati Owa-owa berujung di Indonesia, di negeri inilah tujuannya untuk mengobservasi kehidupan owa-owa dimulai. Tercatat sudah 18 tahun perjuangannya untuk melindungi primata langka ini tidak sia – sia, pria asal Prancis ini berhasil mendirikan yayasan untuk semua jenis binatang di Tanah Air dan pada akhirnya berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Indonesia.


Robin Lim

Robin Lim
Robin Lim

Robin Lim merupakan wanita asal Arizona, Amerika Serikat yang menetap di Bali dan mengabdikan seluruh kemampuan serta hidupnya kepada Indonesia terutama dibidang kesehatan. Sebuah fenomena yang menggerakan hatinya, ketika masih banyak ibu yang meninggal saat melahirkan karena kurangnya asupan gizi dan penanganan medis. Berpondasikan kepeduliannya terhadap kesehatan ibu dan anak khususnya pada keluarga kurang mampu serta bermodalkan kemampuannya di bidang kebidanan akhirnya pada tahun 1994, Robin Lim membangun sebuah klinik sederhana dengan peralatan terbatas untuk membantu persalinan ibu-ibu hamil dan memberikan pelayanan kesehatan pada balita di sekitar desa dimana ia tinggal. Tidak hanya itu, bahkan wanita yang biasa dipanggil Ibu Robin ini tidak malu untuk berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, dari satu desa ke desa lain, mendatangi para wanita hamil, menyapa mereka dan membagi pengetahuannya tentang proses kehamilan. Dan hebatnya lagi, hampir semu hal yang ia kerjakan di bidang kesehatan tidak pernah dipungut biaya sepeserpun. Dia beranggapan bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesehatan terutama mereka yang berada dibawah garis kemiskinan, keteguhan hati dan kepeduliannya inilah yang membuat televisi internasional CNN menganugerahkan “2011 CNN Hero of the Year” pada Robin Lim.


Hywel Coleman

Hywel Coleman
Hywel Coleman

Hywel Coleman adalah pria berkebangsaan Inggris yang sudah lebih dari 40 tahun tinggal di Indonesia. Rasa cintanya pada Indonesia langsung timbul saat pertama kali kedatanganya di tahun 1972, Hywel Coleman yang kala itu tergabung dalam Voluntary Service Overseas yaitu sebuah yayasan yang mengirim anak muda Inggris untuk mengajar bahasa inggris di negara lain. Saat itu Hywel yang baru lulus dari Oxford University, Inggris tidak bisa membohongi perasaannya sendiri bahwa dirinya telah jatuh cinta dengan negeri ini dan memutuskan untuk menetap di Indonesia. Sempat beberapa kali dirinya meninggalkan Indonesia untuk pulang ke negara asalnya, namun keinginannya untuk kembali ke negeri ini tidak bisa dibendung. Rasa cintanya yang sangat besar kepada Indonesia membuat dirinya mengabdikan seluruh hidupnya pada Indonesia, dia bahkan rela menjelajah ke berbagai pelosok negeri untuk memberikan pendidikan yang layak bagi anak – anak Indonesia. Hywel mengatakan bahwa apa saja yang ada di negara ini tidak akan bisa ditemukan di negara lain, sempat juga dia berpesan jika ia meninggal nanti, ia ingin dikuburkan di Indonseia, bukan di Inggris. Semua kecintaannya terhadap Indonesia itulah yang membuat dirinya menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan hak dan menanggalkan status warga negara Inggris-nya menjadi warga Indonesia bahkan sebuah perkataan yang dilontarkan Hywel akan membuat hati siapa saja tersentuh adalah ketika dirinya mengucapkan “Izinkan saya menjadi orang Indonesia. Saya datang ke Indonesia bukan karena mencari keuntungan tapi karena memang dasar cinta.”


Zorica Dubovska

Zorica Dubovska
Zorica Dubovska

Usianya tak lagi muda, tubuhnya-pun sudah dimakan usia, namun kecintaan wanita berumur 84 tahun ini kepada Indonesia tidak akan pernah luntur. Zorica Dubovska adalah seorang ilmuwan Ceko yang telah jatuh hati dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Sansekerta negeri ini, wanita yang pertama kali mengenal bahasa Indonesia 64 tahun lalu di Institut Oriental di Praha ini mengatakan bahwa bahasa dan budaya Indonesia adalah sesuatu yang sangat indah. Bahkan beliau juga turut andil dalam penciptaan kata “Swa” di Indonesia dan telah masuk dalam KBBI, seperti swadaya, swasembada dan lain sebagainya. Rasa cintanya yang teramat dalam pada Indonesia itulah yang membuat dirinya mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengembangkan dan mempromosikan bahasa dan kebudayaan Indonesia di kancah Internasional, tindakan luar biasa dari Zorica Dubovska tersebut disambut baik oleh pemerintah Indonesia dengan memberinya suatu penghargaan berupa Bintang Jasa Pratama. Tapi sayang keinginannya untuk menjadi seorang warga negara Indonesia harus terhalang karena suatu hal.


Elizabeth Karen

Elizabeth Karen
Elizabeth Karen

Banyak warga Indonesia yang males mempelajari kebudayaan negeri sendiri bahkan seakan ingin kebarat – baratan, namun lain ceritanya dengan yang dilakukan oleh Elizabeth Karen. Yaps Elizabeth Karen adalah wanita asal Chicago, Amerika Serikat yang lahir pada tanggal 19 Desember 1964. Dia adalah salah satu warga negara asing yang jatuh cinta dengan kebudayaan Indonesia, khususnya budaya Jawa. Sempat tinggal di Jogjakarta semasa balita lalu kembali ke Amerika, namun kecintaannya terhadap budaya Indonesia tidak bisa dihindarinya. Hal itulah yang mendorongnya untuk menjadi peneliti kebudayaan, dan puncaknya pada tahun 1990 dia kembali ke Indonesia untuk melakukan penelitian intensif tentang budaya Jawa. Tak disangka rasa cintanya pada kebudayaan Indonesia semakin kuat, dia pun bertekad untuk mempelajari lebih dalam kebudayaan jawa dan mengabdikan hidupnya untuk mempromosikan kebudayaan jawa di negara asalnya. Elizabeth Karen tidak hanya menguasai bahasa jawa seperti Bahasa ngoko, kromo madya, kromo inggil, dia bahkan sangat fasih dalam menari dan menyanyi dalam bahasa jawa. Dia juga aktif menjadi sinden di beberapa pagelaran seni budaya Indonesia, atas kecintaanya akan budaya jawa itulah yang akhirnya membuat dirinya mendapat sebuah kehormatan, yaitu sebuah nama berunsur jawa yang disematkan di ujung namanya yaitu Sekar Arum atau yang bisa dipanggil Elizabeth Karen Sekar Arum.

Nah itulah sedikit dari banyaknya warga negara asing yang kepincut dengan Indonesia, bahkan rela meninggalkan tanah kelahiranya sendiri hanya agar bisa hidup di Indonesia. Nah masa kita yang notabenenya orang Indonesia asli sendiri malah mengejek negeri sendiri, masa kita yang lahir di Indonesia harus butuh alasan untuk jatuh cinta pada negeri sendiri kan wagu. Kalo cinta ya cinta aja karena cinta itu ngga butuh alasan, dan percaya guys kalau Indonesia itu keren.

Be the first to comment

Cuap-cuap di sini gan!!!