Predator Alam Bernama Manusia

Manusia dengan segala kebuasannya

Nasionalis.id – Miris sebenarnya jika melihat nasib bumi yang kita tinggali sekarang, bagaimana tidak bumi yang harusnya menjadi tempat paling nyaman dan indah untuk hidup, bersaudara dan mati ini malah menjadi tempat paling mengerikan yang pernah ada. Semua itu tidak luput dari berbagai permasalahan – permasalahan yang menimpanya, mulai dari masalah pencemaran yang sudah menyebar luas keseluruh dunia sehingga menyebabkan banyak bencana dan merusak bumi secara permanen, ada lagi masalah pemanasan global yang membuat suhu bumi kian panas, belum lagi dengan masalah deforestasi yang penyebab terjadinya seakan menjadi pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab.

Dan manusia yang seharusnya mengemban tugas penuh untuk menjaga dan merawat bumi malah seakan kesetanan untuk memuaskan nafsu serakahnya, mulai dari pembangunan pabrik yang tidak ada hentinya, buang sampah seenak ‘jidat’, sampai pembalakan liar. Bahkan mantra klasik yang berbunyi go green hanya dianggap sebagai rapalan kosong semata, belum lagi peringatan hari bumi pada tanggal 22 April lalu yang seharusnya dirayakan dengan kegiatan positif bertemakan alam malah cuma dijadikan sebuah tagar untuk sekedar terlihat eksis dan kekinian di twitter.

makhluk tak bermoral
makhluk tak bermoral

Memang tidak ada yang bisa disalahkan dari kejadian memilukan ini, karena kesadaran tentang pentingnya alam pada diri seseorang baru akan muncul atas kemauannya sendiri, bukan karena paksaan. Namun mau tidak mau kamu, kita mereka harus setuju kalau manusia adalah predator untuk buminya sendiri. Coba saja lihat bagaimana rupa hutan sekarang ini yang seharusnya menjadi sumber kehidupan malah nampak gundul, plontos dan apalah kata lain yang paling pas untuk mengungkapkan penderitaan alam dan mahluk yang hidup didalamnya.

Sebenarnya sebelum terbentuknya semesta dan penghuni didalamnya, Tuhan sudah menciptakan semua hal berdasarkan fungsinya masing – masing. Manusia memiliki fungsi, tak terkecuali dengan hewan dan tumbuhan juga memiliki fungsinya sendiri. Pada manusia, fungsi bisa diartikan sebagai sesuatu hal yang bersifat moral dan etis, namun berbeda pada hewan dan tumbuhan yang telah hidup berdasarkan fungsional yang telah ditetapkan dari sananya. Oleh karena itu, Tuhan berbaik hati memberikan manusia sebuah alat pemikir bernama otak agar mereka bisa belajar untuk memahami fungsinya sendiri, sedang hewan dan tumbuhan tinggal mengikuti.

Namun ketika fungsi – fungsi ini tidak berjalan sebagaimana mestinya atau tumpang tindih karena kelakuan biadab manusia, bersiaplah untuk menghadapi sebuah bencana, sebuah bencana besar, sebuah bencana yang akan memporak porandakan siklus hidup umat manusia. Tapi pertanyaannya, apakah manusia akan sadar ? akankah manusia akan berhenti merusak alam ? jawabanya adalah Tidak. Manusia hanya menganggap bencana seperti sebuah comercial break tv yang akan segera berlalu tanpa menghiraukan hukum sebab akibat-nya, setelah itu mereka akan kembali menjarah alam, menyalakan mesin – mesinya lalu mengeruk gunung dan hutan untuk dijadikan lahan keserakahannya. Sebuah potret memalukan memang, jika disetarakan dengan kodrat kita sebagai makhluk yang berakal pikiran.

Menebang pohon merusak lapisan ozon
Menebang pohon merusak lapisan ozon

Indonesia sendiri sempat menjadi salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, sepertihalnya data yang telah di tunjukan oleh FAO, bahwa hutan Indonesia secara total menyimpan 289 gigaton karbon dan memegang peranan penting menjaga kestabilan iklim dunia. Namun itu pada tahun 2010 silam, lalu sekarang bagaimana ? jangan terlalu berharap karena kerusakan hutan Indonesia sangat memperihatinkan. Bayangkan saja sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2% dari hutan Indonesia berkurang tiap tahunnya. Data Kementerian Kehutanan juga menyebutkan, dari sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektar diantaranya sudah ludes ditebang. Dan penyebab paling nyata dari hilangnya hutan di bumi pertiwi ini adalah penebangan liar, alih fungsi hutan menjadi perkebunan, kebakaran hutan dan eksploitasi hutan secara tidak lestari baik untuk pengembangan pemukiman, industri, maupun akibat perambahan yang selalu berujung pada keuntungan pribadi. Ya memangnya apa lagi yang bisa saya katakan selain manusia adalah predator alam yang tak bermoral.

Mungkin jika kamu lebih menyimak tulisan ini kamu akan menemukan banyak hujatan berupa kata “serakah” yang saya tujukan pada makhluk bernama manusia ini, lantas apa hubungannya kata serakah dengan alam ? apakah sifat serakah dari manusia adalah penyebab dari rusaknya alam ini ? jawabannya Iya. Serakah pada hakikatnya adalah keinginan untuk mendapatkan apa saja dengan cara apa saja tanpa menghiraukan batasan – batasan yang ada, dan manusia yang menghabiskan nilai guna sebuah gaya atau barang hingga lupa diri pada dasarnya bisa disebut dengan serakah.

manusia makhluk yang rakus
manusia makhluk yang rakus

Sedangkan hewan dan tumbuhan tidak mengenal konsep serakah dalam instingnya, sengaja atau tidak, sadar atau khilaf, manusialah akar dari permasalahannya. Baik di dalam maupun luar negeri, Barat atau Timur, Selatan atau Utara, dan segala penjuru yang ada, manusia-lah yang menciptakan sekaligus memelihara kerusakan untuk memuaskan dahaga keserakahannya. Inilah yang membuat saya yakin dan setuju bahwa apa yang diucapkan Ghandi, itu memang benar adanya. Dia mengatakan bahwa “bumi sebenarnya mampu saja menampung kebutuhan hidup manusia, tapi tidak dengan keserakahanya”. Adakah argumen untuk membantah pernyataan seorang pemimpin spiritual asal India ini ? saya rasa tidak. Memang keserakahan manusialah yang menjadi tonggak utama dari kehancuran alam ini, rasa tidak pernah cukup dari manusialah yang membuat keadaan bumi semakin buruk.

Jadi marilah bertanya pada diri kita masing – masing, masihkah saya, kamu, mereka dan seluruh umat manusia yang ada di jagad raya ini mencintai bumi ? apa yang bisa saya, kamu, mereka lakukan untuk bisa menyelamatkan rumah kita ini, mengingat bumi sekarang bukanlah bumi yang dulu lagi, bukan bumi yang manis layaknya anak kecil yang bisa kita nakali sesuka hati. Bumi sekarang sudah berbeda, bumi sekarang sudah tumbuh besar layaknya aktivis kelas wahid yang selalu menyuarakan keadilan dan akan membalas kita dengan bencana apabila mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Saya menulis ini bukan untuk menyadarkan saya sendiri, kamu atau mereka tentang pentingnya alam. Tapi saya menulis ini untuk mengingatkan saya sendiri, kamu juga mereka bahwa alam itu memang penting. Jadi ayo kita rawat alam ini, karena kita tidak mewarisi alam dari pendahulu kita, tapi kita meminjamnya dari anak cucu kita.

Be the first to comment

Cuap-cuap di sini gan!!!