4 Perang Revolusi Terbesar Ini, Dikenal Paling Mengerikan Sepanjang Sejarah

Tak Hanya Mencekam, Revolusi Berdarah ini Juga Memakan Banyak Korban

Nasionalis.ID – Tindak kekerasan sering menjadi jalan keluar untuk menyelesaikan sebuah masalah, tapi sebenarnya hal itu malah bisa merugikan kedua atau beberapa pihak yang bersangkutan. Namun karena dendam serta emosi yang memuncak, sering kali memicu terjadinya perkelahian. Seperti membakar daun dan ranting yang sudah kering, kita tidak perlu repot-repot menyiramnya dengan bensin, hanya perlu api kecil atau bahkan sebuah percikan api. Begitu pula dengan perkelahian dan pertempuran, karena sudah diselimuti dengan rasa dendam, hanya butuh sebuah permasalahan kecil untuk menimbulkan terjadinya perkelahian. Nah, hal ini lah yang sering memicu terjadinya Revolusi berdarah. Revolusi yang pada umumnya menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat, kerap kali menggunakan jalan kekerasan untuk mengakhiri perseteruan yang terjadi. Sudah banyak tercatat dalam sejarah tentang revolusi yang menggunakan jalur kekerasan, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa.

Perang Revolusi Amerika (1775-1783)

Perang Revolusi Amerika
Perang Revolusi Amerika

Perang ini juga disebut sebagai Perang Kemerdekaan Amerika Serikat. Perang Revolusi Amerika yang bertujuan untuk melepaskan diri dari Britania Raya ini terjadi pada tanggal 19 April 1775, pertempuran antara Britania Raya dengan Amerika Serikat (baru berdiri). Britania Raya telah membentuk 13 koloni di Amerika, antara lain koloni New Hampshire, koloni Massachusetts, koloni Rhode Island, koloni Connecticut, koloni New York, koloni New Jersey, koloni Pennsylvania, koloni Delaware, koloni Maryland, koloni Virginia, koloni Carolina Utara, koloni Carolina Selatan, dan koloni Georgia. Pertempuran tersebut di sebabkan karena Parlemen Britania Raya menegaskan bahwa mereka punya hak untuk memberlakukan pajak pada para kolonis,seperti Stamp Act (bea materai), Townshend Act (pajak impor) dan Tea Act (pajak teh).

Namun, karena para kolonis juga termasuk penduduk Britania, sehingga mereka menganggap perpajakan tanpa perwakilan rakyat adalah hal yang ilegal. Dan sejak di keluarkannya Undang-undang yang tidak konstitusional tersebut, para kolonis mulai memberontak dan menyebabkan pertempuran meluas keluar Amerika, meliputi Spanyol, Perancis, dan juga Belanda. Karena Britania Raya memberlakukan pajak untuk teh, Amerika Serikat mulai melakukan pemboikotan terhadap teh-teh Britania. Hal tersebut mendasari terjadinya penghancuran kapal teh Britania (The Boston Tea Party) pada tahun 1773 oleh kelompok pemberontak yang paling radikal “Sons of Liberty” yang di pimpin oleh Samuel Adams. Perang berdarah tersebut berlangsung sekitar 8 tahun, yang berakhir pada tanggal 3 September 1783 dengan kemenangan Amerika Serikat dan negara sekutunya (Spanyol, Perancis dan Belanda).

 Amerika Serikat

 Britania Raya

Kekuatan Pasukan:

  • 35.000 prajurit Kontinental
  • 44.500 milisi
  • 5.000 pelaut Angkatan Laut Kontinental
  • 12.000 tentara Perancis (di Amerika)
  • 60.000 tentara Perancis dan Spanyol (di Eropa)

Korban:

Amerika Serikat:

  • 25.000 tewas
  • 8.000 dalam pertempuran
  • 17.000 karena sebab lainnya

Sekutu:

  • 6.000 tentara Perancis dan Spanyol (di Eropa)
  • 2.000 tentara Perancis (di Amerika)
Kekuatan Pasukan:

  • 56.000 tentara Britania
  • 78 kapal Angkatan Laut Kerajaan
  • 171.000 pelaut
  • 30.000 tentara Jerman
  • 50.000 tentara Loyalis
  • 13.000 penduduk pribumi

Korban:

  • 20.000 tentara Angkatan Darat Britania Raya tewas dan terluka
  • 19.740 pelaut tewas
  • 42.000 pelaut desersi
  • 7.554 tentara Jerman tewas

Perang Saudara Amerika (1861-1865)

Perang Saudara di Amerika
Perang Saudara di Amerika

Perang yang dimulai pada tanggal 12 April 1861 ini juga dikenal dengan Perang Sipil Amerika (American Civil War). Pada masa itu Amerika terbagi menjadi 2 bagian, yakni Utara (bagian bebas) dan Selatan (bagian budak). Perang di picu ketika pada 1860 Amerika bagian Utara memutuskan untuk membuat hukum yang menyatakan kalau tak seorang pun bisa memiliki/memperbudak orang lain. Dan sesaat setelah Abraham Lincoln menjabat sebagai presiden, 7 Negera bagian Selatan memutuskan untuk memisahkan diri, karena merasa putusan tersebut bisa membahayakan sistem pemerintahan mereka. Negara teresebut antara lain Carolina Selatan, Mississippi, Florida, Alabama, Georgia, Louisiana, dan Texas Baru, dan mendirikan negara baru dengan nama Konfederasi Amerika (Confederate State of America).

Sejak saat itu Konfederasi Amerika terus melakukan pemberontakan kecil untuk melawan Amerika bagian Utara atau yang disebut Uni/Pemerintah Amerika (American Union). Perang baru benar-benar terjadi pada tanggal 12 April 1861, ketika Negara Konfederasi Amerika berhasil menguasai atau menduduki Benteng Sumter (Fort Sumter) di Carolina Selatan. Dengan jatuhnya Benteng Sumter ke tangan Pasukan Konfederasi Amerika, 4 Negara antara lain Virginia, Arkansas, Tennessee, dan Carolina Utara memutuskan bergabung dengan Negara Konfedarasi serta membentuk Pasukan atau Tentara Konfederasi, jadi ada 11 negara bagian yang memberontak melawan Uni Amerika. Pasukan Konfederasi yang di pimpin oleh Robert E. Lee berhasil memenangkan 2 kali pertempuran melawan Uni Amerika di Sungai Bull Run.

Selain itu Konfederasi Amerika berhasil memukul mundur pasukan Uni Amerika yang ingin merebut Kota Richmond (Ibukota Konfederasi Amerika) dalam pertempuran selama 7 hari, dan juga berhasil memenangkan Pertempuran Antirtam. Hingga pada Pertempuran Gettysburg pasukan Konfederasi Amerika yang kalah jumlah pasukan berhasil dikalahkan oleh pasukan Uni Amerika, dalam pertempuran ini banyak menelan korban jiwa. Sejak saat itu, pasukan Konfederasi yang merasa kekurangan kekuatan tempur hampir tidak pernah melancarkan serangan lagi, hingga pada tanggal 9 April 1865 pasukan Konfederasi menyerah kepada pasukan Uni Amerika yang di pimpin oleh Ulysses S. Grant. Dengan berakhirnya Perang Saudara ini, Amerika Serikat memulai Era Rekontruksi dan menghapuskan sistem perbudakan.

 Pasukan Uni Amerika

 Pasukan Konfederasi Amerika

Jumlah:

  • 2.100.000

Korban:

  • 365.000 total tewas
  • 140,414 terbunuh dalam perang
  • 275.200 luka-luka
Jumlah:

  • 1.064.000

Korban:

  • 260.000 total tewas
  • 72.524 terbunuh dalam perang
  • 137.000 luka-luka

Perang Revolusi Kuba (1953-1959)

Perang Revolusi Kuba
Perang Revolusi Kuba

Perang ini adalah perang revolusi berdarah yang bertujuan untuk menumbangkan rezim Fulgencio Batista Zaldívar pada tanggal 26 Juli 1953. Batista sendiri adalah seorang pemimpin diktator yang ditunggangi atau didalangi oleh Amerika Serikat. Sejak awal kemerdekaan, Kuba sudah diduduki pemerintahan yang lemah dan korup. Diktator pertama yaitu Gerrado Machado, namun Machado berhasil ditumbangkan rezim Batista. Dan sejak pemerintahan Batista tersebut, masyarakat Kuba mulai melakukan pemborantakan-pemberontakan kecil, yang akhirnya menunjuk Fidel Castro sebagai pimpinan gerakan Anti-Batista. Gerakan pemberontak yang beranggotakan 119 orang tersebut, memulai penyerangan pertamanya di Barak Moncada (Santiago de Cuba) pada tanggal 26 Juli 1953.

Namun, penyerangan tersebut berhasil digagalkan, banyak yang terbunuh dalam penyerangan tersebut sedangkan Castro bersaudara (Fidel & Raul) berhasil tertangkap dan di jatuhi hukuman penjara 15 tahun. Setelah pemilu tahun 1955 (2 tahun kemudian), Batista membebaskan semua tahanan termasuk otak penyerangan Moncada yaitu Castro dan saudaranya Raul. Mereka mengungsi ke Mexico dan bergabung dengan pemberontak Kuba lainnya, di sana Castro juga bertemu dengan Che Guevara (pejuang revolusi Marxis asal Argentina) yang memutuskan membantu membebaskan Kuba dari tangan diktator. Baru pada tahun 1956 Castro dan Guevara bersama pemberontak Kuba lainnya kembali ke Kuba menggunakan kapal, tapi ketika baru mendarat pasukan Castro sudah banyak yang terbunuh, dan hanya menyisakan Castro bersaudara, Che Guevara serta beberapa pemberontak lain saja.

Pertempuran memuncak setelah Castro mendapat dukungan dari penduduk Kuba lainnya, mereka kembali melancarkan serangan di tahun 1958. Castro membagi 2 kelompok dalam penyerangan kali ini, kelompok pertama yang dipimpin oleh Castro bersaudara, menuju ke Timur menyerang Santiago de Cuba. Sedangkan, kelompok kedua menuju ke Barat dan di pimpin oleh Che Guevara dan Camilo Cienfuegos. Kelompok ini berhasil memenangkan Pertempuran Santa Clara pada tanggak 1 Januari 1958, hingga akhirnya kedua kelompok tersebut berhasil menduduki Santiago de Cuba dan Havana dengan menumbangkan perlawanan Batista serta memaksanya untuk melarikan diri ke Republik Dominika.

Perang Saudara Lebanon (1975-1990)

Perang Saudara di Lebanon
Perang Saudara di Lebanon

Perang yang juga disebut dengan nama Perang Sipil Lebanon (Lebanese Civil War) ini, meletus pada tanggal 13 April 1975 di Lebanon. Entah siapa yang terlibat di perang ini, namun secara garis besar perang saudara ini terjadi antara ekstrimis Muslim dan sayap kiri melawan ekstrimis Kristen dan sayap kanan. Perang bermula ketika aksi penambakan pada sebuah gereja di Beirut oleh seseorang yang tidak dikenal, penembakan tersebut bertujuan membunuh Pierre Gamayel (pemimpin Partai Falangis). Dalam hal ini Pierre berhasil lolos, namun sebagai gantinya 4 orang anggota Falangis mati tertembak di sana. Kemudian Falangis menuding milisi-milisi Palestina yang melakukan aksi penembakan tersebut, dan sebagai tindakan balasan Falangis menembaki bus pengungsi Palestina yang menyebabkan 27 orang harus kehilangan nyawanya.

Semenjak itu suasana di Beirut semakin mencekam dengan disusulnya baku tembak antara milisi Falangis dan milisi Palestina, tidak ada yang bisa dilakukan oleh pemerintah setempat untuk meredakan konflik tersebut, karena konstitusi pemerintahan Lebanon saat itu diisi oleh orang-orang yang berbeda keyakinan Agama (Islam dan Kristen sama kuat). Hingga akhirnya perang tersebut mulai menjalar ke daerah-daerah Lebanon Lainnya, yang kemudian memunculkan 2 kubu utama didalam perang saudara tersebut. Kubu pertama yaitu Movement National Libanais (MNL), diisi oleh persekutuan dari beberapa kelompok, diantaranya adalah, kelompok Muslim, milisi Palestina, Druze, Sosialis, Arabis. Sedangkan kubu yang kedua yaitu Front Libanais (FL), yang diisi oleh kelompok Kristen, Sosialis dan juga Falangis.

Perang besar di Lebanon yang juga melibatkan Suriah, Israel, Amerika Serikat dan juga Organisasi Pembebasan Palestina tersebut, sempat meredup setelah perundingan damai pada bulan Oktober 1976 di Riyadh, Arab Saudi. Namun, hal itu tidak berlangsung lama setelah terjadinya pertempuran antara kubu FL melawan Suriah (yang sebelumnya membantu kubu FL), dan akhirnya membuat Suriah mengangkat senjata dan berbalik menyerang mantan sekutunya tersebut. Perang besar yang menyebabkan ± 250.000 korban jiwa dan ± 1 Juta orang luka-luka tersebut berlangsung selama 15 tahun, hingga pada akhirnya di tahun 1990 kembali melakukan perundingan di Taif, Arab Saudi. Perundingan dengan Taif Accord ini berhasil meredam kedua kubu dan menghasilkan penambahan kursi parlemen untuk kubu Muslim.


Banyak sekali korban berjatuhan akibat perang-perang yang terjadi, namun ada kalanya hal itu perlu dilakukan untuk memperoleh kebebasan bernegara dan hak-hak kemanusian. Dalam pertempuran atau peperangan yang terjadi diatas, pasti selalu meninggalkan seuatu yang berharga serta bisa menjadi pembelajaran bagi generasi setelahnya, seperti halnya kelompok Nazi yang terkenal kekejamannya, mereka juga meninggalkan sesuatu yang dapat kita pelajari tentunya. Jangan lupa tinggalkan pendapatmu di kolom komentar, matur suwun 🙂

(Baca Juga: 5 Organisasi Polisi Rahasia ini Terkenal Paling Kejam dan Paling ditakuti di Dunia)

Keywords:

  • perang saudara terbesar
  • kisah perang revolusi Amerika
  • revolusi terbesar di dunia
  • perang revolusi
  • perang saudara lebanon
  • revolusi negara terbesar
  • Perang saudara di indonesia dengan korban terbanyak
  • perang sipil terbesar
  • perang sodara terbesar
  • perang sodara paling besar#spf=1
About Arif Febri 81 Articles
Saya seperti yang Anda bayangkan

Be the first to comment

Cuap-cuap di sini gan!!!