Cara Membuat Dialog Dalam Cerpen

Menulis dialog dalam cerpen bukan hanya untuk menunjukkan bagaimana masing-masing tokoh cerita berbicara.  Melainkan ia harus kita gunakan untuk mendukung tema cerita kita. Kita tidak harus menulis semua percakapan seperti kita bercakap sehari-hari melainkan yang sesuai dengan kebutuhan cerita saja, yang perlu-perlu saja.

dialog dalam cerpen
dialog dalam cerpen

Coba lihat contoh dialog berikut ini:

“Hai Udin, apa kabar?” Sapa Budi.

“Hai juga Budi, saya baik-baik saja. Memang kenapa?” Tanya Udin.

“Hmm.. nggak, ada yang bilang kamu sakit. Oya, Ngomong-ngomong, tugas matematika udah selesai belum, Din?” Lanjut Budi.

“Alhamdulillah udah. Barusan saya bikin bareng Joni.” Jawab Udin.

Bagaimana pendapat anda tentang dialog di atas? Menarik atau malah sebaliknya?

Apakah dengan menuliskan semua apa yang dibicarakan tokoh membuat pembaca akan membaca semuanya? Tentu tidak, justru ini akan membuat tidak menarik karena pembaca tidak sedang ingin menikmati dialog tapi mereka ingin menikmati jalan ceritanya.

Saya menyebut dialog diatas sebagai percakapan sehari-hari. Sah-sah saja bila kita gunakan bila untuk menulis cerita yang tidak untuk dibaca khalayak banyak tapi kalau untuk cerpen yang ingin dipublikasikan, tentu dialog di atas ngga’ asyik banget.

Untuk menulis dialog yang baik dan benar kita hanya perlu menulis dialog yang relevan dengan cerita saja. Kalau cerita anda tentang tugas sekolah, maka dialog yang harus ditampilkan adalah dialog tentang tugas sekolahnya. Dan bila cerita anda tentang “Kabar teman” maka yang ditekankan pada “kabarnya”.

Dari dialog di atas, bila tema cerita kita tentang tugas sekolah, maka dialog yang relevan adalah:

“Oya, ngomong-ngomong, tugas matematika udah selesai belum, Din?” Lanjut Budi

“Alhamdulillah udah. Barusan saya bikin bareng Joni.” Jawab Udin.

Dan bila tema ceritanya tentang “Kabar Teman” maka dialog yang relevan adalah:

“Hai Udin, apa kabar?” Sapa Budi.

“Hai juga Budi, saya baik-baik saja. Memang kenapa?” Tanya Udin.

“Hmm.. nggak, ada yang bilang kamu sakit.”

Intinya… buatlah dialog yang relevan dengan tema cerita kita, jangan tulis semua percakapan tokohnya walaupun anda sedang sangat bernafsu untuk menulisnya. Pembaca hanya ingin menikmati jalan ceritanya bukan dialognya.

Hmmm… sebenarnya dialog di atas masih belum menarik dan masih belum memikat karena masih datar-datar saja, tidak hidup. Kita masih harus memolesnya agar enak dibaca. Bagaimana cara membuat dialog yang menarik dan hidup? Kita bahas di postingan yang lain aja, ya.

Semoga postingan kali ini bermanfaat. Dan bila anda ingin belajar menulis buku dengan cepat silakan klik disini. Salam sukses cerpenis Indonesia.

Keywords:

  • cara membuat dialog di cerpen